Penelitian oleh: Jonathan Symons (WePlanet) & Chris Wright (CarbonBridge). Diringkas oleh redaksi TAMBANG.NEWS
Selama puluhan tahun, OPEC sukses "mempermainkan" harga minyak dunia demi keuntungan anggotanya. Namun, riset terbaru menunjukkan bahwa aksi "kartel" ini ternyata punya efek samping positif bagi bumi: harga yang tinggi secara alami menekan polusi dan memaksa dunia beralih ke mobil hemat energi.
Pertanyaannya: Kenapa Indonesia dan Australia tidak melakukan hal yang sama untuk Batu Bara?
1. Kekuatan Duopoli: Indonesia & Australia
Indonesia dan Australia menguasai hampir dua pertiga ekspor batu bara termal jalur laut dunia. Jika ditambah Afrika Selatan dan Kolombia, kelompok ini memegang kendali atas 80% pasokan global. Secara matematis, jika keempat negara ini sepakat menyetop izin tambang baru, mereka punya kekuatan penuh untuk mendikte harga pasar.
2. Logika Kartel: Kurangi Supply, Naikkan Royalti
Alih-alih menutup tambang yang sudah beroperasi (yang berisiko PHK massal), riset ini mengusulkan penghentian total izin tambang baru. Logikanya sederhana:
Stabilitas Harga: Pasokan yang terbatas akan menjaga harga tetap tinggi dan stabil.
Lonjakan Royalti: Dengan harga yang tinggi, pendapatan negara dan daerah dari royalti akan meningkat, meski volume produksi perlahan menurun.
Aset Terproteksi: Investor besar (seperti dari Jepang dan Korea) yang sudah terlanjur punya saham di tambang eksis akan diuntungkan karena aset mereka terlindungi dari banjir pasokan.
3. Insentif untuk Energi Hijau
Masalah utama transisi energi adalah batu bara yang "terlalu murah". Jika 'OPEC Batu Bara' ini berhasil mengerek harga, maka energi surya dan angin secara otomatis akan menjadi jauh lebih kompetitif tanpa perlu banyak subsidi.
4. Pendekatan Pragmatis: Stop Tombol 'Insert'
Ini adalah aksi iklim yang paling masuk akal bagi negara produsen seperti Indonesia. Menutup tambang yang ada saat ini adalah "bunuh diri" ekonomi dan politik. Namun, menutup pintu bagi tambang baru adalah langkah strategis untuk mengelola penurunan industri secara terhormat (graceful degradation) sekaligus memenuhi komitmen iklim global.
Kesimpulan: Organisasi Transisi Batu Bara
Pembentukan badan semacam "Organisasi untuk Transisi Batu Bara" bukan lagi soal keserakahan ekonomi, melainkan strategi bertahan hidup. Dengan menyelaraskan kepentingan ekonomi nasional dan kelestarian lingkungan, Indonesia bisa memimpin transisi energi tanpa harus mengorbankan kesejahteraan rakyatnya.
Artikel asli: Riset: Strategi 'kartel' batu bara dan menyetop izin tambang baru bisa jadi jalan tengah percepat transisi energi (9 Februari 2026), diakses pada 10 Februari 2026.