Sebuah pemandangan ekstrem dari udara di awal tahun 2026 mendadak viral, memperlihatkan betapa tipisnya batas antara aliran Sungai Kelay dengan lubang tambang batu bara (void) milik PT Supra Bara Energi (SBE) di Kabupaten Berau. Publik dibuat cemas oleh visual elevasi air sungai yang tampak jauh lebih tinggi dibandingkan kedalaman dasar tambang, memicu kekhawatiran akan terjadinya bencana ekologi besar jika dinding pemisah tersebut gagal struktur.
Injeksi Semen: Upaya Menahan "Tanggul" Alam
Merespons kegaduhan tersebut, manajemen PT SBE bersama Dinas ESDM Kaltim akhirnya buka suara soal "jeroan" teknis yang tidak tertangkap kamera ponsel warga. Demi menjaga stabilitas lereng yang bersentuhan langsung dengan badan sungai, perusahaan mengklaim telah melakukan teknik Grouting atau injeksi semen ke dalam tanah sedalam 50 meter di 120 titik.
"Ini adalah upaya teknis untuk melindungi badan sungai. Kami menyuntikkan semen untuk mengunci stabilitas lereng yang sebelumnya terindikasi memiliki retakan," ungkap Hendra Yulmi, Kepala Teknik Tambang (KTT) PT SBE. Selain injeksi semen, perusahaan juga memasang drainhole untuk mengurangi kejenuhan air pada dinding tambang agar tidak mudah longsor.
Target Agustus 2026: Menimbun "Lubang Maut"
Saat ini, fokus utama di lapangan adalah mempercepat penutupan lubang tambang di Pit 55 Utara. Dengan mengerahkan 17 unit alat berat raksasa (HD 777 dan 785), PT SBE sedang mengejar target penimbunan total (backfilling 100%) yang direncanakan rampung pada Agustus 2026.
Data teknis per akhir Januari 2026 menunjukkan kemajuan sebagai berikut:
- Material Tertimbun: Sekitar 2,6 juta BCM (dari total kebutuhan sekitar 12,6 juta BCM).
- Perubahan Elevasi: Dasar lubang sudah naik sekitar 40 meter dari titik terdalam.
- Target Akhir: Area seluas 500 meter akan ditimbun hingga ketinggian +5 mdpl, sehingga tidak menyisakan lubang terbuka sama sekali.
ESDM Kaltim: Provincial Oversight di Tengah Keterbatasan
Meskipun secara regulasi pengawasan teknis berada di tangan Kementerian ESDM (Pusat), Kepala Dinas ESDM Kaltim, Bambang Arwanto, menegaskan pihaknya tidak tinggal diam. Peninjauan lapangan dilakukan untuk memastikan PT SBE menjalankan instruksi Kepala Inspektur Tambang guna menjamin keselamatan warga di bantaran sungai.
"Kami memastikan proses penambalan setebal 500 meter dari bibir sungai sedang berjalan. Mitigasi terhadap apa yang dikhawatirkan publik sebagai bencana ekologi sebenarnya sudah dan sedang dilakukan," tegas Bambang usai meninjau lokasi akhir Januari lalu.
Catatan Redaksi: Antara Ekonomi dan Kelestarian
Sungai Kelay adalah urat nadi kehidupan warga Berau. Keberadaan void tambang yang berjarak kurang dari 100 meter dari bibir sungai—bahkan tampak hanya 'selemparan batu' di beberapa titik—menjadi pengingat keras betapa tipisnya jarak antara aktivitas ekstraksi dengan risiko bencana. Meskipun status tambang ini dikonfirmasi legal, komitmen penutupan lubang per Agustus 2026 akan menjadi ujian bagi integritas PT SBE di hadapan publik Kalimantan Timur.
Disarikan dari media online BeritaBorneo.Com, IniBalikpapan.Com, dan Liputan6.Com